Hari Kesehatan Jiwa International

Saturday, October 10, 2009
By Agus Setiawan

KabarIndonesia – Hari Kesehatan Jiwa Internasional yang jatuh tiap tanggal 10 Oktober tahun ini mengambil tema “Mental Health in Primary Care; Enhancing Treatment and Promoting Mental Health”.Tema ini tentunya diambil bukan tanpa sebab. Banyak penelitian mengatakan bahwa pasien yang mengalami gangguan kesehatan jiwa lebih banyak datang ke pelayanan primer dibandingkan ke pelayanan spesialistik.

Namun sayangnya masih banyak pasien tersebut tidak mampu mengakses pelayanan kesehatan jiwa bahkan di tingkat primer sekalipun. Hal ini disebabkan karena pengetahuan masyarakat tentang gangguan kesehatan jiwa sangat terbatas. Kebanyakan masyarakat hanya mengenal gangguan jiwa berat seperti skizofrenia alias Gila sebagai satu-satunya gangguan jiwa yang dapat diobati di pelayanan kesehatan jiwa di tingkat primer.

Hal lain adalah pengetahuan para dokter sendiri di pelayanan primer yang mengetahui sedikit sekali tentang gangguan jiwa pada masyarakat.

Bukan Hanya Gila

Pasien jiwa berat seringkali disebut gila oleh masyarakat. Orang yang berperilaku aneh, kotor, tidak terurus, galak dan siap menyakiti orang lain adalah gmabaran pasien jiwa yang sangat terpatri di benak masyarakat. Seolah-olah pasien gangguan kesehatan jiwa hanyalah pasien yang menderita Gila saja.

Kata Gila yang mengandung stigma yang kuat tentang kesehatan jiwa juga sulit dilepaskan dari ungkapan masyarakat untuk seseautu sikap perilaku dan emosional manusia yang tidak normal. Padahal masih banyak gangguan jiwa lain yang juga membutuhkan perhatian khusus seperti depresi, kecemasan, gangguan stres pasca trauma dan gangguan kesehatan jiwa pada anak.

Beban Masyarakat

Badan Kesehatan Dunia WHO mengatakan dalam laporannya bahwa pada tahun 2020 nanti beban global yang ditanggung negara akibat ketidakproduktifan kerja masyarakatnya disumbangkan paling tinggi dari gangguan jiwa depresi. Hal ini semakin membuat kita harus waspada tentang bahaya gangguan jiwa yang tidak terkenali di masyarakat kita.

Pengenalan gejala gangguan kesehatan jiwa khususnya yang sering terjadi di masyarakat sangat penting untuk terus menerus dilakukan. Hal ini agar masyarakat bisa mengatahui secara dini gangguan kesehatan jiwa yang dialami baik oleh dirinya sendiri atau orang-orang di lingkungannya.

Selain daripada itu juga perlu adanya informasi dan upaya dari masing-masing penyedia layanan kesehatan jiwa untuk terus menginformasikan kepada masyarakat sehingga dapat mengurangi stigma yang ada.

Selama ini kebanyakan masyarakat takut untuk datang ke dokter jiwa atau psikiater karena dianggap memalukan, tidak waras atau lebih parah lagi dikatakan mengalami kegilaan. Hal ini tentunya harus diwaspadai karena ternyata stigma ini bukan hanya terjadi di kalangan masyarakat bahkan di kalangan profesional di kalangan kesehatan sendiri.

Semoga dengan peringatan hari Kesehatan Jiwa Internasional, kita sebagai masyarakat dapat terus meningkatkan kesadaran kita tentang gangguan kesehatan jiwa. Jangan lupa untuk dapat segera meminta pertolongan jika memang membutuhkan. (*)

*Penulis adalah psikiater, dosen di FK UKRIDA dan penanggung jawab Klinik Psikosomatik RS Omni Internasional.

Tags: , , , , ,

One Response to “Hari Kesehatan Jiwa International”

Leave a Reply